Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

Terkini


404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

INTAIKASUS.COM, (Pinangsori) - Babinsa Koramil 04 memelopori Usaha yang dikembangkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) ternyata tidak hanya berkutat di bidang mebel atau pertanian. Di Kecamatan Sibabangun sukses mempelopori dan mengembangkan usaha budidaya ikan Lele organik dengan kolam terpal sebagai medianya. 

LMDH yang beralamat di Desa Mombangboru, Kecamatan Sibabangun bahkan kini menjadi LMDH pencontohan Kecamatan Sibabangun.
    
Ketua LMDH "Wana Asri", Markat, Jum'at (23/08/2019) mengatakan, kesuksesan mengembangkan budidaya Lele tentu tak lepas dari keinginan LMDH-nya yang pantang menyerah. Pengembangan budidaya ikan lele ramah lingkungan kini juga disebut sebagai pelopor usaha perikanan di desa maupun daerah sekitarnya.
    
LMDH yang masuk wilayah binaan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sibabangun mempelopori budidaya ikan lele organik atau ramah lingkungan dengan media menarik dan sangat unik karena dibuat khusus dengan menggunakan plastik atau terpal warna biru yang biasa digunakan untuk tenda.
    
Menurut Babinsa serda O.M.M Simbolon, usaha pembenihan ikan lele ramah lingkungan diawali dengan keanggotaannya dalam LMDH sering mengikuti pelatihan-pelatihan pengembangan usaha produktif yang diadakan oleh Perum Perhutani maupun pemerintah.
    
Dengan tekat dan ketertarikan disamping karena spesifikasi kewilayahan sekitar desanya yang cukup sulit air, merupakan dorongan tersendiri untuk memulainya. Di samping rumahnya yang telah ditanami pohon jati, kolam-kolam pun dibuat tidak dengan menggali tanah, sebagaimana layaknya kolam ikan yang kita kenal selama ini.
    
Markat bersama anggotanya menggunakan terpal untuk membuat kolam-kolam itu dengan ukuran dua kali empat meter dengan ketinggian satu meter dan kemudian diisi dua ribu benih ikan lele per kolamnya. Rupanya tanda-tanda keberhasilan usaha lele itu mulai tampak. "Berangsur-angsur usaha kami ini, berhasil," kata Markat.
   
Saat ini, sudah terdapat 15 kolam ikan plastik berjajar rapi di bawah tegakan pohon Jati yang dipeliharanya. Mulai dari kolam pembenihan, kolam pemeliharaan atau pembesaran dan kolam indukan. "Ikan-ikan tersebut kini untuk melayani permintaan konsumen di, kecamatan  Sibabangun dan sekitarnya saja. Kamipun masih kewalahan," kata Markat.
    
Melihat kondisi seperti itu, Markat mencari jalan keluar dengan menyiapkan anggota LMDH binaannya sebagai petani ikan lele ramah lingkungan di desanya.
    
Markat yang memiliki 10 kolam pembesaran mengisi kolamnya dengan 2.000 ekor benih ukur 4–6 cm. Dari 1 kolam pembesaran benih ini, setelah cukup 60 hari (hanya dua bulan) dapat dipanen 140 sampai 150 Kg ikan lele. Harga jualnya saat ini Rp 12.000,- sampai dengan Rp 16.000,- per kg. Bahkan bila saat-saat tertentu harga ikan lele konsumsi mencapai Rp 20.000,- per kg.
    
Karena kiprahnya, kini LMDH yang dipimpin Markat sering menerima kunjungan tamu yang ingin belajar budidaya ikan lele organik, baik untuk pembenihan maupun pembesaran. "Kami dengan senang hati menjelaskan bagaimana caranya menjadi pembudidaya ikan lele ramah lingkungan atau organik," kata Markat.
    
Selain tujuan studi banding, Markat dan LMDH-nya saat ini sering menjadi nara sumber di berbagai pertemuan LMDH maupun pelatihan usaha produktif di tingkat regional maupun propinsi. Sebagai seorang petani ikan air tawar yang berhasil telah memperoleh sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perikanan Air Tawar Nasional dan ikan lele hasil budidayanya dinyatakan telah layak ekspor. (Jal, Sti)
Leave A Reply