Jakarta, INTAIKASUS.COM - Pernyataan Staf Ahli Wakil Presiden (Wapres), Sofjan Wanandi yang menyatakan bahwa republik ini seperti republik banana atau republik pisang untuk menanggapi pernyataan Rizal Ramli yang akan merevisi rencana pembangunan listrik 35GW menjadi 16 GW adalah bentuk pelecehan pada presiden.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) kepada Hariandeteksi.com di Jakarta, Kamis (10/9/2015) pagi.
" Apakah Sofyan Wanandi ingin menyatakan bahwa Jokowi adalah Presiden Republik Pisang? Di benua Eropa dan Amerika sana, menjadikan pisang sebagai analogi sangat sensitif karena bisa dianggap rasis," ujar Ferdinand.
Dia menekankan agar mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini tidak menambah kegaduhan lagi di negara ini. "Dari struktur jabatan sekalipun, sangat tidak pantas seorang staf wapres menantang seorang Menko," katanya.
Oleh sebab itu, Ferdinand berharap Presiden Jokowi harus segera bertindak dalam menghadapi situasi kegaduhan saat ini. Dia mengingatkan jangan sampai tujuan reshufle bulan lalu, yang bertujuan lebih menciptakan suasana kondusif dan kordinatif di kabinet justru semakin gaduh, dan semakin tidak punya aturan.
" Kami sarankan Presiden Jokowi segera angkat bicara dengan cara menetapkan tim yang bertanggung jawab terhadap 35GW. Siapa pejabat yang paling bertanggung jawab harus segera diputuskan oleh Presiden, apakah Menko Rizal Ramli atau Wapres Jusuf Kalla yang memimpin pembangunan listrik 35 GW ini," tandasnya.
Kebijakan ini, menurut dia, sangat penting demi menciptakan suasana pasti dalam berinvestasi, termasuk pula siapa yang harus didengarkan oleh investor supaya tidak ada keraguan dan kegaduhan dalam investasi ini.
Selain itu, EWI tetap berharap dan meminta Presiden untuk mempertahankan target 35GW, dan tidak merevisinya. "Jadikan ini target yang harus dicapai. Jadikan target negara bukan jadi target presiden," cerusnya.
Dengan demikian sehingga jika waktunya harus menyebrang ke periode presiden berikutnya, maka program ini harus berjalan, tidak boleh berhenti karena ini adalah kebutuhan bangsa jika ingin bangsa ini maju.
" Rizal Ramli lebih baik fokus pada cara bagaimana supaya target ini sukses daripada berpikir angka,-angka yang belum bisa dibenarkan seperti potensi kerugian PLN " pungkas Ferdinand Hutahaean.
Sebelumnya, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli melakukan rapat koordinasi membahas proyek listrik 35 GW. Namun hasil proyek tersebut, menurut Rizal, tidak akan tercapai. Wapres, Sofjan Wanandi, melawan soal hasil rapat koordinasi Rizal Ramli kemarin. Apalagi dalam rapat tersebut, Menteri ESDM Sudirman Said tidak hadir. (Red)