INTAIKASUS.COM - Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membeberkan tujuh refleksi kepemimpinan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK), salah satunya adalah menyebutkan peran penting pers.
"Kita semua tahu pers adalah salah satu pilar demokrasi. Kita juga tahu pers memiliki peran penting dalam melakukan kontrol terhadap kekuasaan," ujar SBY di kediamannya, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/6/2016). Dilansir dari laman
okezone.com
Ketua umum partai Demokrat itu mengimbau agar pers juga harus membuka diri secara adil dan tidak berpihak serta berimbang memberitakan dalam meliput suara ataupun pandangan masyarakat. Jika ketiga hal itu tidak dilaksanakan, maka gugurlah jati diri dan fungsi pers sebagai penjaga nilai-nilai demokrasi serta sebagai penegak kebenaran dan keadilan.
"Partai Demokrat, dan saya pribadi sebagai seorang pencinta demokrasi, tercengang melihat perubahan sangat dramatis dalam dunia pers dan media masa kita," imbuhnya.
SBY kemudian membandingkan kekuatan pers saat ini dengan 10 tahun masa kepemimpinannya. Ia menilai, saat itu, ia selalu dikritik dan bahkan cenderung berlebihan.
"Dulu, boleh dikata tiada hari tanpa kritik dan serangan pers, baik kepada pemerintah maupun saya pribadi. Meskipun kritik dan serangan itu sering berlebihan disertai dengan sinisme yang tinggi, tetapi saya berterima kasih karena akhirnya kekuasaan yang saya miliki dikontrol secara ketat," ujarnya.
"Jika saya bisa bertahan selama 10 tahun, ditengah gencarnya serangan pers, pengamat, parlemen dan lawan-lawan politik, itu antara lain juga disumbang oleh peran pers yang kritis," sambungnya.
Sebab itu, SBY menyebut rakyat rindu terhadap daya kritis pers. "Saya yakin, rakyat kita rindu terhadap pers yang peduli, kritis, adil dan berimbang, serta bertanggung jawab," kata SBY.
"Tidak harus sekeras dan seganas dulu ketika mengkritisi pemerintah dan saya sebagai Presiden, karena hal begitu sebenarnya tidak baik, tetapi absen dan nyaris diamnya pers justru membahayakan kita semua. Satu hal, orang bijak mengatakan 'janganlah kita selalu membenarkan yang kuat, tetapi perkuatlah kebenaran'," tandasnya. (Net)