Ilustrasi
INTAIKASUS.COM - Kinerja perdagangan timah ke luar negeri sepanjang tahun ini diprediksi kurang maksimal, karena banyaknya ekspor ilegal. Ketua Umum Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) Jabin Sufianto mengatakan, sejak 2014 banyak laporan mengenai ekspor ilegal.
Hal ini diperparah dengan utilisasi sektor industri timah yang hanya mencapai 21 persen. Menurut Jabin, AETI mendapatkan laporan dari negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura bahwa kedua negara itu masih menerima ekspor pasir timah. "Padahal, kita dari 2007 sudah ada larangan itu. Jumlahnya tidak banyak, sekitar 1.000-1.500 ton per tahun. Rabu (20/9/2016).
Tapi, itu yang terlapor," ujar Jabin di sela-sela acara Internasional Tin Conference and Exhibition 2016 di Nusa Dua, Bali, kemarin. Dia menyampaikan, jumlah impor timah Malaysia dari Indonesia pada 2013 sebesar 13.142 metrik ton, sementara data ekspor Indonesia menunjukkan 8.082 metrik ton.
"Artinya, terdapat selisih 5.060 atau 39 persen impor timah Indonesia yang diekspor ke Malaysia dilakukan secara ilegal. Jumlah ini meningkat menjadi 9.677 metrik ton pada tahun 2014 atau meningkat hampir dua kali lipat," jelasnya. Menurutnya, modus ekspor timah ilegal adalah dengan pengiriman antar-pulau dengan volume yang cukup besar. Modus ini dilakukan dengan pengiriman ingot untuk keperluan lokal ke Jakarta.
"Tapi ketika dicek, timahnya tidak masuk, jadi itu ke mana?" tuturnya. Jabin menuturkan, selain Malaysia, pada 2015 China juga meliris data impor pasir timah dari Indonesia sebesar 19,5 ton. "Memang kecil, tapi itu yang terdata, apalagi yang nggak terdata," ucapnya. Jabin menambahkan, untuk menjadi pemimpin dunia sebagai produsen timah, ekspor ilegal harus diberantas dan dari sisi bursa dibenahi.
Untuk itu, pemerintah harus berupaya menutup semua kebocoran ekspor. "Selain itu, pengusaha harus memperlihatkan responsible tin mining. Saya rasa semua stakeholder di timah ini mesti kompak," katanya.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Bachrul Chairi mengatakan, ekspor timah nasional mengalami penurunan dari 39.000 metrik ton pada semester I/2015 menjadi hanya 29.000 metrik ton pada periode yang sama tahun ini.
"2016 ini karena ada kehadiran pemain baru, Myanmar, mereka baru masuk. Ini salah satu faktornya yaitu sumber baru," ujarnya. CEO Indonesian Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Megain Widjaja mengatakan, target ekspor 2016 kurang lebih sama dengan tahun lalu sebesar 68.000 metrik ton.
"Tantangan ekspor di tahun depan adalah bersaing di pasar global. Makanya, disinggung produk turunan atau derivatif dari timah. Tujuannya, untuk bagaimana pelaku pasar Indonesia dapat melakukan lindung nilai dari timahnya," ujarnya. Demi mendukung lindung nilai dari timah maka, dibutuhkan Pusat Logistik Berikat (PLB).
Pembangunan PLB juga bertujuan agar barang impor yang biasanya disimpan terlebih dahulu di Singapura dan Malaysia bisa dipindahkan ke Tanah Air. "Jadi, bisa lebih efisien dan cash flow-nya tidak memberatkan perusahaan. Paling lambat bulan depan diluncurkan," katanya. (Net)