Ilustrasi
INTAIKASUS.COM - Proyek pembangunan infrastuktur pembangkit listrik dengan kapasitas 35 ribu megawatt (mw) di seluruh daerah Indonesia saat ini tengah dikebut oleh pemerintah. Namun, belakangan ini, target tersebut kembali dikaji oleh pemerintah karena dianggap kurang realistis.
Selain proses tender yang memakan waktu, proyek ini juga membutuhkan banyak dana. Untuk itu, perlu hitung-hitungan realistis terkait sumber pendanaan dari proyek ini.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas mengungkapkan, pembangunan proyek ini mutlak butuh dukungan dari pihak swasta. Penyebabnya, apabila mengandalkan pendanaan dari Bank BUMN, maka proyek ini tidak dapat didanai secara menyeluruh.
"Misalnya untuk listrik, itu enggak bisa. Meskipun seluruh bank BUMN konsorsium bersama enggak bisa juga, itu sebagai contoh," ujarnya di Belitung, Sabtu (24/9/2016).
Kemampuan perbankan untuk mendanai proyek infrastruktur memang patut dimaklumi. Sebab, Bank juga memiliki keterbatasan likuiditas karena harus disalurkan pada berbagai sektor lini usaha lainnya. Termasuk diantaranya adalah UMKM.
"Jadi kemampuan Bank untuk membangun infrastruktur tidak banyak karena ada batas umum pemberian kreditnya. Untuk itu perlu juga dukungan swasta lainnya," tutupnya. (Net)