LANGKAT, IK - Hari ke-10 bukan lagi soal memulai, tapi memastikan semua tak meleset. Di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Sabtu, 2 Mei 2026, apel pagi Satgas TMMD 128 berlangsung dengan satu nada: percepatan.
Letda Inf. M. Rezky, Komandan Satuan Setingkat Kompi (Dan SSK), memimpin langsung barisan. Tak banyak basa-basi. Waktu kian sempit, sementara daftar pekerjaan belum sepenuhnya tuntas.
“Keselamatan tetap utama, tapi ritme kerja harus dijaga. Kita di sini untuk masyarakat—kerja harus ikhlas, tapi juga tepat sasaran,” ujarnya.
Apel harian yang biasanya dianggap rutinitas, di hari ke-10 berubah menjadi ruang penegasan. Target fisik—jalan, drainase, hingga fasilitas umum—tak bisa menunggu. Cuaca, tenaga, dan koordinasi menjadi variabel yang harus terus dikendalikan.
Di lapangan, tantangannya nyata. Medan kerja tak selalu bersahabat, tenaga terkuras, dan jeda hampir tak ada. Dalam situasi seperti itu, kekompakan bukan lagi slogan, tapi kebutuhan. Tanpa itu, percepatan hanya akan jadi jargon.
Doa bersama menutup apel. Singkat, tapi sarat makna—memohon kelancaran di tengah tekanan target. Setelahnya, barisan kembali pecah ke titik-titik pekerjaan. Mesin pembangunan kembali bergerak.
TMMD bukan sekadar proyek tahunan. Ia adalah uji konsistensi: seberapa cepat negara bekerja, dan seberapa disiplin ia menjaga kualitas di tengah kejaran waktu.Di Pasar Rawa, jawabannya sedang ditulis—bukan di atas kertas, tapi di atas tanah yang sedang dibangun. (Red)