Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

Terkini


404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page


Medan, IK - Sepanjang perjalanan penulis bersama rombongan delegasi sumatera ke berbagai tempat bersejarah di Kashgar,  khususnya di situs sejarah Xiangfei, penulis melihat bahwa salah satu hal penting menambah wawasan dalam pengayaan khazanah Islamic studies adalah berkaitan dengan jejak sejarah Islam di Kashgar yang tidak terpisahkan dengan kisah Xiangfei. Di tengah lorong-lorong kota tua Kashgar yang masih dipenuhi nuansa Turkestan Islam, nama Xiangfei tetap hidup dalam ingatan masyarakat Xinjiang, khususnya di wilayah Kashgar. Dalam sejarah Dinasti Qing, ia dikenal sebagai Rongfei, seorang selir Kaisar Qianlong Emperor yang berasal dari keluarga muslim Uyghur di wilayah Yarkant, dekat Kashgar.


Tokoh yang dalam legenda rakyat Tiongkok disebut “Xiangfei” atau “Permaisuri Wangi” ini diyakini lahir tahun 1734 dari keluarga Hoja (Khoja), sebuah keluarga bangsawan religius muslim yang memiliki pengaruh besar di Xinjiang selatan.


Kisah Rongfei sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Islam di Kashgar. Jauh sebelum Dinasti Qing menguasai Xinjiang pada abad ke-18, wilayah Kashgar telah lebih dahulu menjadi pusat penting peradaban Islam Turkik sejak masa Kara-Khanid Khanate pada abad ke-10 Masehi.


Dinasti Kara Khanid merupakan kerajaan Muslim pertama dari bangsa Turki di Asia Tengah. Penguasanya yang terkenal, Satuk Bughra Khan, tercatat memeluk Islam sekitar pertengahan abad ke-10 dan kemudian menjadikan Islam sebagai identitas politik kerajaan. Dari Kashgar, pengaruh Islam berkembang luas ke wilayah Tarim Basin dan Turkestan Timur.


Sejarawan menyebut bahwa sejak masa Kara Khanid, Kashgar berkembang bukan hanya sebagai pusat perdagangan Jalur Sutra, tetapi juga sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam dan budaya Turkik. Tokoh besar seperti Mahmud al-Kashgari, penulis Diwan Lughat al-Turk, lahir dari lingkungan budaya ini. Karyanya hingga hari ini menjadi sumber penting sejarah bahasa dan masyarakat Turkik.


Dalam beberapa percakapan penulis dengan masyarakat Uyghur di Kashgar, nama Xiangfei masih sering disebut sebagai bagian dari memori sejarah lokal. Salah seorang warga di sekitar kawasan Kota Tua Kashgar menyebutkan bahwa Xiangfei dipandang sebagai simbol perempuan Uyghur yang tetap membawa identitas budaya dan agama meskipun berada jauh di pusat kekuasaan Beijing.


Warga lainnya juga menceritakan bahwa masyarakat setempat lebih sering menghubungkan Xiangfei dengan keluarga Khoja dan sejarah Islam Turkestan dibanding sekadar legenda romantis istana Qing. Di kalangan sebagian masyarakat Uyghur, kisah Xiangfei dianggap berkaitan erat dengan warisan ulama dan keluarga bangsawan Islam di Kashgar.


Pada abad ke-11, pengaruh Kara Khanid semakin kuat setelah wilayah Khotan yang sebelumnya beragama Buddha berhasil dikuasai. Peristiwa ini menjadi titik penting Islamisasi Xinjiang bagian selatan. Sejak masa itu, identitas Islam di Kashgar tumbuh semakin kuat dan bertahan hingga berabad-abad kemudian.


Warisan Islam Kara Khanid kemudian diteruskan oleh keluarga-keluarga ulama dan bangsawan Muslim di Kashgar, termasuk keluarga Hoja tempat Rongfei berasal. Karena itu, ketika Rongfei memasuki istana Qing pada tahun 1760, ia sesungguhnya membawa identitas budaya Islam Turkestan yang telah berusia ratusan tahun.


Catatan Dinasti Qing menunjukkan bahwa Rongfei memperoleh perlakuan khusus di istana. Ia tetap diperbolehkan mempertahankan tradisi makan halal sesuai syariat Islam dan juga budaya berpakaian Uyghur sebagaimana hal itu masih tetap bertahan dan hidup ditengah tengah masyarakat Uyghur hingga saat ini. Bahkan di sekitar tempat tinggalnya di Beijing, dibangun kawasan muslim dan fasilitas ibadah untuk mengurangi kerinduannya terhadap kampung halaman di Kashgar.


Dalam legenda rakyat Tiongkok kemudian berkembang dan sangat dikenal cerita bahwa tubuh Rongfei mengeluarkan aroma harum alami sehingga ia dijuluki Xiangfei. Namun menurut salah seorang warga Kashgar bahwa kisah tersebut kemungkinan berasal dari tradisi penggunaan minyak wangi dan aroma khas Asia Tengah yang umum di kalangan bangsawan muslim Xinjiang saat itu.


Menariknya, hingga hari ini kompleks makam keluarga Afaq Khoja yang sering disebut “makam Xiangfei” masih menjadi salah satu lokasi sejarah paling dikenal di daerah Kashgar. Seorang warga Uyghur yang penulis wawancarai di sekitar kawasan tersebut menyebut bahwa tempat itu bukan hanya situs wisata, tetapi juga bagian penting dari sejarah spiritual dan budaya masyarakat muslim Uyghur di Xinjiang.


Hari ini, ketika menelusuri Kashgar, sulit memisahkan kota ini dari sejarah panjang Islam Turkestan. Masjid-masjid tua, bazar tradisional, budaya bahasa Uyghur, budaya berpakaian, hingga identitas masyarakat Muslim setempat merupakan bagian dari warisan sejarah yang jejaknya telah terbentuk sejak era Kara Khanid.


Karena itu, kisah Xiangfei menjadi simbol bagaimana identitas Islam dan budaya Turkestan dari Kashgar mampu bertahan dan tetap dikenang hingga berabad-abad kemudian.


Muhammad Riduan Harahap

(Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)

Leave A Reply