Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

Terkini


404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page
Medan, INTAIKASUS.COM - Dan pemenangnya adalah...'Putih Biruku..'. Puncak pengumuman yang diucapkan host dengan nada tinggi dan panjang itu sontak disambut teriak histeris dan jingkrak-jingkrak tak karuan oleh anak-anak dari SMP Negeri 5 Medan.

Film karya mereka, 'Putih Biruku', terpilih sebagai film terbaik dalam ajang Festival Film Dokumenter (FFD) Sejarah Kota Medan 2015, yang dihelat di Hotel Grand Kanaya, Sabtu malam (3/10/2015).
Sang sutradara, Febry S, yang juga merupakan siswa SMPN 5 Medan, tak mampu menahan haru.

Saat teman-temannya berjingkrak tak kenal lelah, ia tampak lebih banyak memejamkan mata, menutup wajahnya, dan terus mengucap syukur.
" Saya benar-benar tidak menyangka. Ini adalah film pertama yang pernah saya sutradarai," ujarnya kepada wartawan selepas turun panggung menerima trofi. Tapi bukan sekali itu saja anak-anak SMPN 5 Medan ini berjingkrak dan berteriak histeris.

Sepanjang malam penganugerahan yang turut dihadiri sastrawan Raudah Jambak itu, mereka berhasil memenangkan tiga nominasi. Selain memenangkan nominasi film terbaik, film 'Putih Biruku' juga mengantarkan Febry S menerima trofi sutradara terbaik, dan Fatma Ridha sebagai pemeran pembantu wanita terbaik.
Film 'Putih Biruku' bercerita tentang kehidupan seorang anak yang berjuang untuk dapat melanjutkan pendidikan meski kedua orangnya yang merupakan nelayan papa tak pernah menyetujui.

Dengan tegas melarangnya melanjutkan sekolah mengingat keadaan ekonomi mereka. Namun, diam-diam ia terus belajar. Dengan bantuan temannya, Akbar, ia kemudian masuk ke sebuah SMP Terbuka -- sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak.
Mengambil latar di Kampung Salam, Medan Labuhan, film dokumenter berdurasi 1 jam 50 menit ini berakhir dengan tangis Rusli yang 'tough', tatkala melihat ibunya mengetahui bahwa ia menjadi jawara paskibra di sekolahnya yang ia rahasiakan itu.

Febry, sang sutradara film sekaligus sutradara terbaik pada ajang itu, mengakui cukup sulit mengatur akting para pemeran dalam film perdananya itu." Sangat sulit. Terutama mengarahkan mereka untuk berdialog. Supaya tidak kaku," ujarnya.
Berkat Simon, pemeran tokoh Rusli, bahkan terpaksa harus menggunakan bawang merah untuk dapat menangis pada fragmen akhir cerita ketika ibunya tak lagi melarangnya bersekolah.

" Yang paling sulit waktu adegan menangis. Pas di situ aku jadi juara paskibra, mamakku datang. Bangga dia. Aku pakai bawang sama minyak kayu putih," katanya.
Meski digelar dalam ruangan tak begitu luas, FFD Sejarah Kota Medan ini berjalan dengan antusias tinggi para hadirin.

Riuh rendah tepuk tangan, sorak sorai, tawa dan tangis, seluruhnya berlaku dengan penuh emosi. Para remaja dari berbagai sekolah di Kota Medan yang hadir pun mengenakan kostum terbaiknya demi tampil cantik dan tampan. (Red/net)





Leave A Reply