Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

Terkini


404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

INTAIKASUS.COM - Warga di Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, Kamis (3/3/2016) ribut saat pembagian jatah Beras Murah (Raskin-red) bulan Januari dan Februari. Keributan yang dibuat warga itu bukan tanpa alasan, mereka tidak terima dikutif Rp 5000 dengan alasan untuk uang kartu.

Kepada wartawan salah seorang warga Lk 8 Jalan Pertempuran yang meminta namanya tidak disebutkan mengaku, petugas pembagi raskin di kantor lurah yang sebagian diantaranya Kepala Lingkungan (Kepling) meminta warga membayar uang sebesar Rp 5000 untuk pembayaran kartu baru. "Tadi kami ribut di sana karena kami protes soal uang yang diminta Rp 5000 dengan alasan untuk uang kartu, padahal tidak ada program dan pemberitahuan untuk itu," jelasnya kepada wartawan.

Diakuinya, pada bulan maret ini warga menerima Raskin sebanyak Rp30 Kg dengan harga beras per Kg nya Rp 1.600. "Untuk bulan ini, kami mendapat jatah 30 Kg, itu karena Januari dan Februari kemarin tidak disalurkan. Biasa setiap bulannya kami mendapat 15 Kg dengan harga Rp25.000," jelasnya.

Namun, sejumlah warga berontak lantaran petugas meminta uang tambahan. "Kami terpaksa nambahi uang Rp 5.000, jadinya kami membayar Rp 30 ribu, untuk beras Rp 25 000, untuk kartu baru Rp 5.000," jelasnya.

Diakuinya warga terus protes, namun perugas bersikeras uang Rp 5000 itu untuk uang cetak kartu. "Mereka berkeras, uang Rp 5000 itu untuk uang cetak kartu," jelasnya.

Namun, setelah warga menelepon salah seorang anggota DPRD Medan dari Fraksi PKS Rajudin Sagala, pengutipan uang itu kemudian terhenti. "Tapi selanjutnya pengutipan dihentikan setelah warga menelepon salah seorang anggota dewan dari PKS, Rajudin Sagala," jelasnya. Marahi Bawahannya.

Sementara itu, Lurah Pulo Brayan Kota Suhairi Susilo saat dikonfirmasi wartawan membenarkan kejadian itu. "Iya, tadi ada ribut-ribut warga di kantor lurah, saya terus ke sana dan saya bilang kepada petugas tidak boleh ada pengutipan apapun," jelasnya.

Diakuinya, dirinya tidak tahu soal kejadian tersebut karena sedang bersama tim penilaian adipura. "Tadi saya tidak tahu, saya lagi di luar bersama tim penilaian adipura. Terus saya dapat telpon dari anggota dewan saya meluncur ke kelurahan," jelasnya.

Diakui Suhairi, terkait persoalan ini dirinya tidak pernah ada memerintahkan pengutipan. "Tidak ada saya perintahkan, tadi saya semprot (marahi-red) mereka (petugas-red) dihadapan warga," jelasnya.

Suhairi juga tidak membenarkan adanya pengutipan itu. "Iya, tadi juga saya sudah ingatkan ke petugas jangan ada kutipan-kutipan," jelasnya. Terpisah, anggota DPRD Medan Rajudin Sagala mengaku terkejut dengan laporan warga. "Saya ditelpon warga, dan mendengar mereka di pungli saya terkejuat. Orang miskin pulaknya mereka, kan gak benar itu," jelasnya.

Atas laporan warga ini kemudian ia menelepon Lurah Pulo Brayan Kota agar bisa segera mengklarifikasi persoalan tersebut. "Lurahnya sudah saya telpon tadi," jelasnya. (Red)

Leave A Reply