Ilustrasi
INTAIKASUS.COM - Proyek pengaspalan jalan di Jalan Letda Sujono, Kecamatan Medan Tembung, terindikasi proyek siluman, selain itu banyak menimbulkan korban kecelakaan terhadap pengguna jalan, Kamis (19/5/2016) jam 00.30 wib.
Salah satu pengendara yang menjadi korbannya yakni, Hamdani alias Dani (32) warga Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan. Bahkan, beberapa pengendara sepeda motor lainnya ikut jadi korban begitu melintasi sebahagian badan jalan yang licin, lantaran sudah disiram TIR (lem aspal) oleh para pekerja pengaspalan.
Akibatnya, para pengendara yang berjatuhan dari sepeda motornya, mengalami luka-luka dan menyebabkan motor pengendara menjadi rusak.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dilokasi kejadian menyebutkan, sedikitnya 3 mobil truk dan 2 mobil giling warna Kuning, dikerahkan dengan belasan pekerja dalam proyek pengaspalan jalan yang diduga dinaungi oleh Badan Jalan dan Jembatan Provinsi.
Anehnya, dalam proses pengaspalan yang seharusnya diperlukan pengawasan ekstra ketat untuk menjaga agar para penggunaan jalan tak terganggu, pihak proyek tak memberikan kenyamanan bagi para pengendara. Hal tersebut terlihat, dengan tidak diberikannya plank "Hati-Hati" ataupun peringatan lain dilakukan pihak proyek.
Dampaknya, banyak pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua, terjungkal dan jatuh, lantaran tergelincir pada waktu melintasi jalanan yang sudah disiram TER.
Salah satu korban jatuh dari keretanya akibat proyek pengaspalan tersebut mengaku, jika pihak pekerja dan pimpinan proyek dianggap 'teledor' karena tak memberikan Plank pemberitahuan serta 'tak memikirkan pengguna jalan'.
"Proyek pengaspalan ini memang gak memikirkan pengguna jalan. Udah jelas jalanan umum dan banyak pengendara melintas sampai pagi, tapi gak ada Plank pemberitahuan dan gak tau dimasak atau digoreng dimana TER aspalnya. Padahal ini proyek besar, dan dalam pengerjaannya dibutuhkan pengawasan untuk pengguna jalan, berarti sudah kelihatan kali banyak korupsi diproyek ini," kata Deni, pengendara kereta yang jatuh.
Selain menyebabkan kaki dan lengannya luka-luka dan kaki terkilir, kreta jenis bebek BK 6514 GW milik Dani, juga mengalami kerusakan pada seluruh body sepeda motor.
"Kretaku pun ikut rusak dan Cap-nya juga hancur. Soalnya aku tergelincir dan sampai terseret. Padahal aku baru dari Polsek Percut Sei Tuan, dan bergegas keluar bersama petugas polisi TL (Tugas Luar) yang malam itu hendak melakukan penangkapan terhadap seorang Terlapor atas tuduhan membawa lari anak gadis," terang Dani yang merupakan salah seorang wartawan online terbitan Medan ini.
Sayangnya, ketika Dani yang ditemani sesama rekannya yang juga wartawan, mencoba konfirmasi, sekaligus menanyakan mengenai prosedur pengerjaan pengaspalan dan tentang tidak adanya Plank pemberitahuan, kepada pekerja proyek yang berada di lokasi saat itu, Dani malah didatangi 3 tentara berseragam lengkap yang langsung menyalahkan korban.
"Makanya kau kalau jalan pakai mata. Kalau jatuh yah, resiko sendirilah. Disini gak ada Pimpinan Proyeknya (Pimproy)," cetus 3 pria berseragam TNI AD yang terdengar dari para pekerja lainnya bernama, Rahmat dan Hotman.
Tak berapa lama, terlihat juga ada pengendara roda dua yang terjatuh. Jufri (28) warga Tembung, langsung tergelincir dan jatuh dari keretanya begitu keluar dari sebuah gang yang menembus ke Jalan Letda Sujono, dimana ada proyek pengaspalan. Dirinya juga mengaku terkejut dan tak mengetahui adanya pengaspalan.
"Gak tau aku, tiba-tiba aspalnya sudah disirami TER aja, sehingga jadi licin. Lagian gelap, proyeknya gak ada tanda atau lampu dan Plank. Padahal pelan laju keretaku," ungkap pria lajang ini, sambil membersihkan baju dan celananya yang menghitam akibat terkena aspal jalan. (Mls)