Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Home Layout Display

Posts Title Display

Terkini


404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

INTAIKASUS.COM - Pasca tewasnya Bripka Jakamal Tarigan, suasana duka masih menyelimuti rumah duka di Jalan Mawar, Pasar 4, Desa Helvetia, Kec. Labuhan Deli, Kab. Deliserdang. Tenda dan kursi masih terbentang di depan rumah, seorang wanita usai salat mengenakan mukenah tampak masih menyimpan rasa kesedihan mendalam terduduk lemas di dalam rumah.

Rubiatun, dia adalah istri dari almarhum Aipda (anumaerta) Jakamal Tarigan. Dengan wajah sembab, wanita berusia 41 tahun itu tampak tak kuasa dengan musibah yang menewaskan suaminya.

" Rasanya saya seakan tak percaya ini bisa terjadi, padahal suami saya berniat baik untuk menolong dan melerai, kenapa suami saya harus dibunuh," ungkap ibu anak tiga ini di hadapan keluarganya.

Rubiatun berharap, agar kasus yang menewaskan suaminya  segera diungkap dan pelaku harus dihukum setimpal dengan perbuatannya.
" Saya mau para pelakunya dihukum seberat-beratnya, saya sudah kehilangan ayah dari anak–anak saya," pinta wanita yang akrab disapa Mbak Biah.

Rubiatun sesaat mengenang  semasa hidupnya, suaminya selalu bersikap baik dan tidak pernah ribut bila ada masalah. "Suami saya itu orangnya suka bercanda, dia selalu menjadi teman saya tertawa. Kini, tidak ada lagi teman saya tertawa," ucapnya.

Dengan musibah ini membuat Rubiatun merasa kehilangan kepala rumah tangga, dirinya seakan tak tahan menjalani hidup tanpa suaminya.
" Lihatlah, saya harus menanggung dan membesarkan tiga anak saya, rasanya saya mau mati ikut suami saya saja," keluh Rubiatun.

Walaupun musibah telah terjadi, kata Rubiatun, dirinya harus tegar membesarkan ketiga anaknya, Bunga, Berlian dan Bintang untuk menjadi orang sukses.
" Suami saya pernah berpesan, ketiga anak kami harus sukses dan sekolah tinggi agar menjadi orang sukses demi masa depannya," kenang Rubiatun di hadapan para pelayat dan keluarga.

Saat ditanya adakah firasat buruk sebelum suaminya meninggal, Rubiatun mengaku, tidak punya firasat aneh, hanya saja, kebiasaan suaminya suka membersihkan tanaman dan pekarangan.
" Biasanya suami saya ini selalu sibuk tugas, tapi selama seminggu puasa ini hanya di rumah, bersih – bersih rumah, saya pun heran, mungkin itu tanda – tanda keanehan dari suami saya," kenang Rubiatun.

Dengan berbicara sepatah kata, Rubiatun tampak lemas mengaku hanya bisa memberikan doa untuk suaminya yang telah tiada. "Saya hanya bisa berdoa, mungkin ini sudah jalan Allah," ungkapnya sambil meminta untuk istirahat dengan mata berkaca–kaca.

Terpisah, suasana di lahan garapan yang menjadi saksi tragedi penikaman oknum polisi yang bertugas di Sat Narkoba Polrestabes Medan sudah tampak lenggang. Hanya saja, polisi masih melakukan pengawasan dan berjaga–jaga di sekitar lokasi. (Red)

Leave A Reply